Menu

Minggu, 26 September 2021 /

Ilustrasi petani (Foto: Unsplash)

sariagri.id - Kamis, 14 Mei 2020 | 15:03 WIB

Editor: M Kautsar

SariAgri - Ramadan telah mendekati akhir. Pada masa sekarang banyak petani dan pemilik perkebunan yang mulai risau mengenai penghitungan zakat.

Dikutip dari laman lembaga zakat, infak, dan sedekah, Dompet Dhuafa, ada perbedaan nilai zakat pada metode jenis sumber airnya, Perkebunan atau persawahan yang menggunakan tadah hujan atau pengarirannya tanpa membeli, semisal berasal dari sungai, nilai zakatnya adalah 10 persen.

Sementara itu, perkebunan atau persawahan yang pengairannya dilakukan dengan membeli, maka nilai zakatnya adalah 5 persen. Tetapi, apabila pengairannya melalui air hujan dan kadang membeli air, maka nilai zakatnya 7,5 persen.

Sementara itu dalam pencapaian nishab hasil panen pertanian atau perkebunan sejenis selama setahun, sebagian ulama menggunakan hitungan secara tergabung. Perbedaan tempat, lokasi dan waktu dalam setahun, tidak menghalangi nishab.

Zakat hasil pertanian atau perkebunan bisa dikeluarkan setiap kali panen. Tidak harus menunggu genap setahun. Pesan itu berlandaskan pada surat Al-An'nam ayat 141.

Akan tetapi, terkait pencapaian nishab, hasil panen dalam setahun digabung sehingga mencapai nilai nishab 5 wasaq, setara 652,8 kilogram.

Sebagian ulama berpendapat hasil satu musim untuk pertanian yang satu jenis dihitung secara tergabung, tidak terpisah, untuk mencapai penggenapan nishab. Tetapi, hal ini tidak menjadikan pengeluaran zakat dilakukan menunggu satu tahun. 

SHARE