Menu

Rabu, 8 Desember 2021 /

Bengkuang jumbo diberi nama Luk Songo Super asal Kediri (SariAgri/Arief L)

sariagri.id - Jumat, 15 Mei 2020 | 14:04 WIB

Editor: Arya Pandora

SariAgri -  Musim pancaroba, masa peralihan penghujan ke musim kemarau, menjadi celah waktu yang menguntungkan bagi puluhan petani bengkuang desa Tugurejo kecamatan Ngasem kabupaten Kediri Jawa Timur.

Pasalnya selama 2 bulan terakhir, petani bengkuang mendapatkan iklim yang sesuai untuk perkembangan buah bengkuang secara maksimal. Hasil panen kali ini bengkuang sangat besar, berbeda halnya dengan jika di tanam pada musim penghujan.

Jika di awal Januari lalu petani hanya mampu memanen bengkuang dengan rata-rata berat maksimal 1 kilo 500 gram. Maka pada panen kali ini berat bengkuang bisa mencapai maksimal 1 buahnya 5 kilogram (kg).

“Waktu Desember tahun lalu hingga Januari 2020, bengkuang hasil panen berat maksimal 1 bijinya 1 kilo 500gram, maka saat ini hasil panen 1 buah bengkuang paling kecil 2 kg dan berat maksimal bisa mencapai 5 kg, “ aku Suyarno, petani bengkuang kepada SariAgri.

Berkat bobot maksimal super jumbo ini, bibit bengkuang raksasa hasil penelitian dan rekayasa petani desa Tugurejo diberi nama bengkuang Luk Songo Super (LSS). Keberhasilan ini mengantarkan bengkuang LSS dari desa Tugurejo menjadi plasma nutfah yang nantinya akan dikembangkan di seluruh petani bengkuang yang ada di kabupaten Kediri.

Menurut Suyarno, ia dan beberapa rekan petani di desanya sudah sekitar 2 tahun melakukan eksperimen budidaya bengkuang super di ladang. Setelah berhasil menemukan bibit bengkuang super, dari indukan biji besar LSS, kini di lahan 100 ru (1.400 meter persegi) miliknya seluruh area ditanami bengkuang LSS.

“Hmpir 2 tahun lebih kami melakukan eksperiman dari bibit indukan dengan buah yang besar. Akhinya ketemu jenis umbi bengkuang yang paling besar dan kami beri nama LSS ini. Harapannya bisa lebih besar lagi dengan bobot lebih dari 5 kg per biji, “ sebutnya penuh optimis.

Agar umbi yang dihasilkan tumbuh besar sesuai harapan, Suyarno secara rutin memangkas daun yang terlalu lebat. Sedangkan pupuk yang digunakannya juga sederhana hanya pupuk organik.

Sebelum menemukan bibit bengkuang super jumbo ini, saat panen ia hanya mampu menghasilkan sekitar 3 ton hingga 4 ton. Kini dengan bibit LSS ini Suyarno mampu memperoleh hasil panen antara 6 ton sampai dengan 10 ton.

Bengkuang jumbo hasil panen petani Kediri (SariAgri/Arief L)

Selain jumlah produksi lebih tinggi, dalam setahun ia mengaku bisa menanam 2 hingga 3 kali. Bahkan tak hanya panen melimbah, permintaan umbi bengkuang selama ramadan juga meningkat.

Harga jual bengkuang saat ini juga cukup tinggi per kilogramnya bisa mencapai Rp 2.500, padahal sebelum Ramadan harganya hanya dikisaran Rp 1.800/kg.

Sementara dihubungi SariAgri di tempat terpisah, Kasie Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Holtikultura Dinas pertanian dan perkebunan (Dipertabun) kabupaten Kediri, Arahayu Setya Adi, mengatakan pihaknya akan melakukan observasi terkait konsistensi ukuran bengkuang LSS.

“Jika dari hasil observasi bengkuang LSS konsisten, maka karena ini termasuk varietas unggul dan tidak dimiliki oleh petani bengkuang di daerah, kami akan bantu untuk dilakukan sertifikasi, “ paparnya.

Baca Juga: Antisipasi Musim Kemarau, Petani Lamongan Budidaya Biji Bayam Cabut
Perkenalkan Sorgum, Tanaman Pangan yang Tahan Terhadap Musim Kemarau

Tak hanya itu, imbuh Arahayu, pihaknya juga akan mendaftarkan hak paten bagi petani Tugurejo. Bahkan jika diperlukan Dinas Pertanian Kediri akan mendorong kepada Kementerian Pertanian untuk dikembangkan luas ke seluruh petani bengkuang nusantara.

Selain desa Tugurejo kecamatan Ngasem, kawasan lain yang menjadi sentra penghasil bengkuang di kabupaten Kediri yakni kecamatan Kayen Kidul dan Papar dengan luasan mencapai 30 hektar lebih. Hasil produksi buah bengkuang Kediri sejauh ini sudah dipasarkanke daerah Bali, Malang, Surabaya dan Jakarta. (Arief L/ SariAgri Jawa Timur)

SHARE