Menu

Selasa, 19 Oktober 2021 /

Ilustrasi buka puasa. (pixabay)

sariagri.id - Rabu, 21 April 2021 | 12:20 WIB

Penulis: Antoni, Editor: Dera

SariAgri - Berbagai negara punya cara dan tradisi unik dalam menyambut dan menjalani bulan suci Ramadan. Di Arab Saudi, bukan hanya hidangan khas berbuka, masyarakat di sana juga memeriahkan Ramadan dengan berbagai aneka dekorasi yang memancarkan kekayaan budaya lokal.

Di Saudi, kurma adalah hidangan penting bagi umat Islam untuk berbuka puasa, mengikuti tradisi Nabi Muhammad (saw). Umumnya warga berbuka dengan bermacam-macam kurma, bersama dengan kopi Arab, sup dan kue isi yang digoreng atau dipanggang, seperti samboosa dan hidangan lainnya.

Bagi pecinta manis, minuman ringan Vimto sering kali menjadi cairan penawar untuk memuaskan dahaga. Selain itu, kudapan yang paling digemari adalah kunafa, kue yang direndam gula dengan keju atau krim, serta logaimat (bola bulat kecil dari adonan goreng yang dilapisi sirup manis).

Terlepas dari makanan umum ini, setiap wilayah di Arab Saudi juga punya makanan khas Ramadan masing-masing.

Di wilayah tengah, hanini adalah makanan wajib bagi orang Najdi untuk berbuka. Hidangan mirip bubur ini terbuat dari kurma, tepung terigu, ghee dan gula.

Ada juga jarish, hidangan gurih terkenal lainnya yang terbuat dari gandum giling, semur domba dan sayuran dengan cakram seperti panekuk mini dari gandum utuh yang dikenal sebagai matazeez dan margoog.

Baca Juga: Dijamin Lezat, Ini Tips dan Trik Bikin Selai Nanas Buat Isi Kue Nastar
5 Sup Lezat Khas Timur Tengah yang Cocok untuk Menu Berbuka Puasa

Di wilayah barat Kerajaan, ada hidangan khas foul and tamees yang merupakan kombinasi dari rebusan kacang fava dan roti jinak, kreasi lembut yang dipanggang dalam oven tradisional yang diyakini berasal dari Afghanistan. Minuman khas daerah ini adalah sobia, minuman Ramadan pelepas dahaga yang terbuat dari tepung gandum dan malt.

Sedangkan di Provinsi Timur, warga setempat banyak berbuka puasa dengan sup daging dan sayuran yang dikenal sebagai saloona. Disajikan dengan balaleet, dibuat manis atau gurih dari mie bihun yang dibumbui dan diberi lapisan telur. Ada juga sagu yang terbuat dari sejenis pati yang diambil dari inti pohon sagu.

Bukan hanya keanekaragaman makanan khas Ramadan, berbagai tradisi menyambut bulan suci juga hidup di negara ini. Di antaranya terkait busana dan dekorasi Ramadan.

Melansir Arab News, lentera-lentera dan aksesori Ramadan yang dilukis dengan pola warna warni, khususnya merah, cukup populer untuk menyambut Ramadan.

Saat Ramadan, para wanita banyak memilih pakaian tradisional sederhana berupa gaun panjang, seperti jallabiya yang telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir melalui desain yang terinspirasi oleh pola dari seluruh dunia Arab dan Muslim.

Gaun-gaun ini belakangan kian populer dan mendatangkan keuntungan bagi perancang busana lokal, pasar dan mereka yang menjual lewat platform media sosial.

"Meskipun saya belum setua itu, saya dapat mengatakan dengan pasti bahwa ini adalah tradisi Ramadan yang baru diadopsi yang tidak sepopuler 10 tahun lalu," kata Manal Saleh dari Jeddah kepada Arab News.

“Praktik baru yang diadopsi melalui tren media sosial menjadi semakin penting dan bahkan cukup kuat untuk menggantikan tradisi yang diwariskan," ujarnya.

Namun, dia mengatakan bahwa tradisi lama dan baru itu "indah dan memberi rasa khusus pada bulan suci".

Masjid Saudi dulu mengadakan pertemuan buka puasa setiap hari untuk pekerja asing dan orang miskin, biasanya dibayar oleh penduduk lokal atau donatur. Namun tradisi semntara dihentikan akibat wabah pandemi COVID-19.

Keluarga-keluarga di Saudi biasanya bertukar dan berbagi hidangan dengan tetangga, praktik yang terkenal di seluruh Arab Saudi. Tidak ada makanan yang kembali kosong. Namun Ramadan kali ini, tradisi tersebut juga dihentikan karena pandemi.

Video Terkait 

SHARE