Menu

Minggu, 26 September 2021 /

Penjual cilok di NTB berdandan bak pejabat untuk menarik perhatian pelanggan. (Foto: Sariagri/Yongki)

sariagri.id - Kamis, 29 Juli 2021 | 21:00 WIB

Penulis: Yongki, Editor: M Kautsar

SariAgri - Seorang pedagang cilok keliling bernama Ramli (34 tahun) warga Kelurahan Punia, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) viral di media sosial karena berjualan cilok dengan cara tidak biasa. Dia berjualan menggunakan setelan jas rapi lengkap dengan sepatu pantofel bak seorang pejabat.

Pria yang juga berprofesi sebagai kepala lingkungan ini mengaku berjualan cilok untuk menutupi kebutuhan ekonomi keluarganya di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Namun, karena ingin agar ciloknya lebih laku, dia memilih menjual cilok dengan cara tidak biasa.

"Saya namakan dagangan saya ini Cilok Pejabat, ini nama baru karena harus sesuai dengan penampilan saya berjualan," ucap Ramli kepada Sariagri sambil tersenyum, Kamis (29/7).

Pria yang biasa mangkal di Jalan Airlangga Kota Mataram ini mengaku telah berjualan cilok sejak 7 tahun silam. Namun sejak pandemi merebak, omzet penjualan ciloknya anjlok karena sepi pembeli.

Diakuinya salah satu cara jitu menarik pelanggan ialah dengan berpenampilan seperti itu, dimana setiap hari ia biasa melakukan rutinitas menjual cilok keliling kota sambil mengenakan masker, jas hitam, sepatu pantofel, dan gerobak dengan sepeda motor bertuliskan "cilok pejabat dari rakyat untuk rakyat".

“Awalnya ditawarkan sama kakak saya untuk berjualan cilok menggunakan jas, alhamdulillah sejak saya menggunakan jas ini dagangan saya laku keras,” ucapnya.

Baca Juga: Kisah Perjalanan UMKM Populerkan Se'i Kuliner Asal NTT Lewat Digitalisasi
Usaha Pengolahan Kolang Kaling Mulai Bergeliat Jelang Ramadan

Untuk bahan pembuatan cilok, ia mengaku menggunakan bahan seperti cilok pada umumnya, bedanya, cilok yang ia jual diolah dengan sayur mayur dan daging, yang di lumuri saus Delmonte.

Jika biasanya ia hanya menjual 1 kilogram cilok hingga malam, kini dagangan Ramli tidak perlu waktu lama untuk menghabiskannya, cukup dalam waktu 2 jam ciloknya ludes terjual. Bahkan, pembeli diakui Ramli sampai rela mengantri. 

“Sampai banyak yang ngantri, padagal Sebelum ini saya berjualan paling banyak 1 kg, sekarang alhamdulillah saya menghabiskan 3 kg cilok dari jam 4 sore, hingga maghrib sudah habis," imbuhnya.

Jika ditotalkan penghasilan Ramli dalam per hari menembus Rp1 juta lebih, ia cukup bersyukur dengan penghasilannya sekarang ini. Dengan begitu, ia berharap usaha yang digelutinya berkembang, sehingga nantinya dapat mengembangkan usaha dan memiliki karyawan untuk membantu masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan, lebih-lebih di masa pandemi ini.

"Saya berharap nantinya usaha ini berkembang, punya tempat jualan dan karyawan, nantinya juga tetap harus menggunakan jas saat jualan, jadi ikon cilok pejabat,” pungkasnya.

Video terkait:

SHARE